KabarUsaha.com – Pernahkah Anda mendengar cerita tentang harga secangkir kopi yang naik secara perlahan dari tahun ke tahun? Atau mungkin Anda merasakan sendiri bahwa uang Rp50.000 kini tidak bisa membeli barang sebanyak lima tahun lalu?Â
Fenomena inilah yang dalam ilmu ekonomi disebut sebagai inflasi. Lebih dari sekadar angka statistik, inflasi adalah kekuatan senyap yang menggerus nilai uang di saku kita dan memengaruhi stabilitas ekonomi suatu negara.
Pengertian Inflasi secara Sederhana
Secara sederhana, apa itu inflasi? Inflasi adalah kondisi di terjadi kenaikan harga barang dan jasa secara umum dan terus-menerus dalam suatu periode waktu . Bayangkan Anda memiliki selembar uang Rp100.000.Â
Di tahun ini, uang tersebut mungkin bisa membeli 10 kg beras. Namun, jika terjadi inflasi, di tahun depan uang yang sama mungkin hanya bisa membeli 9 kg beras. Inilah inti dari inflasi: penurunan daya beli mata uang .
Bank Indonesia mendefinisikan inflasi sebagai kenaikan harga barang dan jasa secara umum yang terjadi terus menerus .Â
Penting untuk dicatat, kenaikan harga pada satu atau dua barang saja tidak bisa disebut inflasi. Suatu kondisi baru dapat disebut inflasi jika kenaikan harga itu meluas dan berdampak pada barang-barang lainnya .
Faktor Penyebab Inflasi
Para ekonom umumnya membagi penyebab inflasi ke dalam dua kategori utama, yaitu inflasi tarikan permintaan dan inflasi desakan biaya.Â
Sebuah riset terkini bahkan mencoba mengukur kontribusi relatif dari kedua faktor ini terhadap tekanan inflasi yang terjadi.
Kenaikan Permintaan (Demand-Pull Inflation)
Jenis inflasi ini terjadi ketika permintaan masyarakat terhadap barang dan jasa melebihi jumlah barang dan jasa yang tersedia (kapasitas produksi) . Bayangkan sebuah konser musik dengan tiket terbatas, tetapi jumlah penggemar yang ingin datang sangat banyak.Â
Akibatnya, harga tiket akan melambung tinggi. Dalam ekonomi, hal ini bisa dipicu oleh peningkatan pendapatan masyarakat atau kebijakan pemerintah yang meningkatkan pengeluaran, sehingga terlalu banyak uang yang memburu terlalu sedikit barang .
Kenaikan Biaya Produksi (Cost-Push Inflation)
Merujuk dari riset yang dipublikasikan dalam jurnal Studies in Nonlinear Dynamics and Econometrics oleh Chen dan Semmler (2025), episode inflasi signifikan sering kali didorong oleh faktor cost-push atau desakan biaya.Â
Penelitian yang menggunakan data Australia ini menemukan bahwa dalam 25 tahun terakhir, periode ketika inflasi melampaui 4 persen terutama disebabkan oleh faktor kenaikan biaya produksi .
Inflasi jenis ini bermula dari meningkatnya biaya produksi, yang memaksa produsen untuk menaikkan harga jual produk mereka. Kenaikan biaya ini bisa disebabkan oleh berbagai hal, seperti kenaikan harga bahan baku (misalnya minyak dunia), kenaikan upah pekerja, atau pelemahan nilai tukar mata uang yang membuat bahan impor menjadi lebih mahal .
Sebuah studi dalam Review of Political Economy oleh Romaniello dan Stirati (2024) yang menganalisis kasus inflasi di Italia menambahkan perspektif menarik. Studi ini menunjukkan bahwa kenaikan biaya impor dapat mempengaruhi bagian keuntungan (profit share) dan memicu periode propagasi inflasi, bahkan tanpa adanya spiral upah-harga. Ini berarti inflasi bisa menjalar ke sektor-sektor lain hanya karena perusahaan berusaha mempertahankan margin keuntungan mereka di tengah melonjaknya biaya input .
Jenis-jenis Inflasi Berdasarkan Tingkat Keparahannya
Pemerintah dan bank sentral biasanya mengklasifikasikan inflasi berdasarkan seberapa parah tingkatannya. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) dan Bank Indonesia, berikut adalah jenis-jenis inflasi:
- Inflasi Ringan
Kenaikan harga berada di bawah 10% per tahun. Inflasi ini masih dianggap normal dan bahkan dapat mendorong pertumbuhan ekonomi karena mencerminkan peningkatan permintaan.
- Inflasi Sedang
Kenaikan harga berkisar antara 10% hingga 30% per tahun. Pada tingkat ini, inflasi mulai mengganggu perekonomian dan secara nyata menurunkan daya beli masyarakat kelas menengah ke bawah .
- Inflasi Berat
Kenaikan harga antara 30% hingga 100% per tahun. Inflasi jenis ini sangat merusak ekonomi, menyebabkan ketidakstabilan, dan dapat mengarah pada devaluasi mata uang .
- Hiperinflasi
Kondisi terparah ketika kenaikan harga melebihi 100% per tahun. Hiperinflasi dapat menghancurkan ekonomi suatu negara, di mana nilai uang turun begitu drastis sehingga masyarakat kehilangan kepercayaan terhadap mata uang nasional .
Dampak Inflasi bagi Masyarakat dan Ekonomi
Dampak inflasi yang paling terasa adalah penurunan daya beli. Jika harga-harga naik tetapi pendapatan tetap, maka jumlah barang yang bisa dibeli menjadi lebih sedikit. Hal ini terutama memberatkan kelompok masyarakat berpenghasilan tetap.
Merujuk dari riset yang dipublikasikan dalam Borneo Islamic Finance and Economics Journal oleh Farizal dkk. (2024), inflasi memiliki hubungan erat dengan kemiskinan dan kesejahteraan masyarakat.Â
Penelitian yang melakukan analisis di 34 provinsi di Indonesia ini menemukan bahwa inflasi merupakan variabel dengan respons dan kontribusi terendah terhadap variabel ekonomi lainnya.Â
Meskipun kontribusinya relatif kecil (sekitar 3,79 persen), keberadaan inflasi yang tidak stabil tetap berdampak negatif terhadap Indeks Pembangunan Manusia (IPM) atau tingkat kesejahteraan masyarakat . Artinya, inflasi yang tidak terkendali bisa menghambat peningkatan kualitas hidup manusia.
Selain itu, inflasi juga dapat menurunkan minat investasi karena ketidakpastian ekonomi, meningkatkan biaya hidup, dan membuat harga produk ekspor menjadi lebih mahal sehingga daya saing di pasar internasional menurun .
Cara Pemerintah Menekan Laju Inflasi
Pemerintah dan Bank Indonesia terus berupaya menjaga inflasi tetap terkendali melalui berbagai kebijakan, yang secara garis besar dibagi menjadi kebijakan moneter dan fiskal.
Kebijakan Moneter
Dilakukan oleh bank sentral (di Indonesia dilakukan oleh Bank Indonesia) dengan cara mengatur jumlah uang yang beredar. Instrumen yang umum digunakan adalah menaikkan suku bunga acuan. Dengan suku bunga yang lebih tinggi, masyarakat diharapkan lebih memilih menabung daripada meminjam uang untuk konsumsi, sehingga permintaan agregat bisa diredam .
Kebijakan Fiskal
Dilakukan oleh pemerintah melalui pengaturan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Untuk menekan inflasi, pemerintah bisa mengurangi belanja negara atau meningkatkan pajak agar daya beli masyarakat tidak berlebihan .
Kebijakan Riil (Intervensi Pasar)
Selain kebijakan moneter dan fiskal, pemerintah juga aktif melakukan intervensi langsung di pasar, terutama untuk komoditas pangan.
-
Pasar Murah
Seperti yang dilakukan oleh Pemerintah Provinsi Sumatera Utara, pasar murah digelar untuk menyediakan barang kebutuhan pokok dengan harga lebih terjangkau. Tujuannya adalah untuk mengintervensi pasar dengan subsidi, sehingga tekanan permintaan di pasar reguler bisa berkurang dan harga dapat ditekan .
-
Gerakan Pangan Murah (GPM)
Merujuk dari riset yang dipublikasikan dalam Jurnal Agregat oleh Sholatiah dkk. (2025), keberadaan pasar murah memiliki peran signifikan dalam membantu menstabilkan harga kebutuhan pokok dan meningkatkan daya beli masyarakat, terutama selama periode inflasi tinggi.Â
Penelitian ini merekomendasikan agar program pasar murah diperluas dan disesuaikan dengan kebutuhan lokal sebagai salah satu strategi pengendalian inflasi .
Kesimpulan Apa Itu Inflasi
Inflasi adalah fenomena ekonomi yang kompleks dan tak terhindarkan, namun dapat dikelola. Memahami apa itu inflasi, dari penyebab seperti tarikan permintaan dan desakan biaya , hingga dampaknya terhadap kesejahteraan masyarakat , adalah langkah awal untuk tidak panik menghadapinya.Â
Dengan sinergi kebijakan antara bank sentral, pemerintah, dan intervensi pasar nyata seperti pasar murah , laju inflasi dapat dijaga agar tetap sehat bagi perekonomian.
Sebagai masyarakat, kita bisa beradaptasi dengan meningkatkan literasi keuangan dan mengelola keuangan pribadi dengan bijak di tengah dinamika ekonomi.





















